Apa Fungsi Buku Sejarah Kementerian Kebudayaan bagi Pendidikan
Buku Sejarah Indonesia yang diklaim ditulis oleh 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi menghadirkan wacana baru dalam dunia pendidikan dan historiografi nasional. Kehadiran buku sejarah versi pemerintah ini memunculkan perdebatan mengenai perannya sebagai rujukan pembelajaran sekaligus pembentuk pemahaman generasi muda terhadap perjalanan bangsa.
Baca juga : Pentingnya Pendidikan dalam Kehidupan
Kementerian Kebudayaan secara resmi memperkenalkan buku berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global pada pertengahan Desember 2025. Buku ini merupakan hasil penulisan ulang sejarah Indonesia yang dikerjakan sejak awal tahun dan digagas langsung oleh Menteri Kebudayaan. Pemerintah menyatakan bahwa buku tersebut disusun sebagai referensi komprehensif bagi masyarakat untuk memahami sejarah nasional secara menyeluruh.
Menurut penjelasan kementerian, buku sejarah ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh tenaga pendidik sebagai bahan pendukung pembelajaran sejarah di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Meski demikian, penggunaannya sebagai bagian dari kurikulum resmi tetap bergantung pada kebijakan kementerian yang membidangi pendidikan.
Buku Sejarah Indonesia ini terdiri atas 10 jilid dengan total hampir delapan ribu halaman. Isinya mencakup perjalanan panjang sejarah Indonesia, dari awal peradaban Nusantara hingga dinamika politik dan sosial pada era reformasi. Jilid awal membahas interaksi masyarakat Nusantara dengan peradaban dunia, seperti Asia Selatan, Asia Timur, dan kawasan Timur Tengah. Sementara itu, jilid-jilid berikutnya mengulas masa kolonialisme, pergerakan nasional, perjuangan kemerdekaan, hingga konsolidasi negara bangsa.
Fungsi Buku Sejarah
Pada bagian akhir, buku ini mengulas periode pembangunan nasional, stabilitas politik, serta proses demokratisasi pasca-1998. Penyusunan materi disebut menggunakan pendekatan narasi yang menekankan pencapaian dan peristiwa penting di setiap masa pemerintahan. Fokus utama diarahkan pada sisi positif perjalanan bangsa, dengan tujuan membangun optimisme dan kebanggaan nasional.
Namun, pendekatan tersebut menuai tanggapan kritis dari kalangan akademisi dan pegiat masyarakat sipil. Mereka menilai penulisan sejarah oleh negara berpotensi menghadirkan narasi yang tidak sepenuhnya utuh. Penekanan berlebihan pada sisi positif dinilai dapat mengaburkan fakta penting, terutama terkait konflik politik dan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu.
Dalam konteks pendidikan, sejumlah pengamat menilai buku sejarah terbitan negara memiliki peluang besar dijadikan rujukan utama di sekolah. Label kementerian sering kali dipersepsikan sebagai sumber resmi yang aman digunakan oleh guru, terutama di tengah tekanan administratif dan sistem penilaian pendidikan.
Kebudayaan bagi Pendidikan
Padahal, bagi siswa, buku sejarah tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga alat pembentuk ingatan kolektif. Cara suatu peristiwa dituliskan, tokoh yang ditonjolkan, serta konflik yang dipilih atau dihilangkan akan memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap bangsanya sendiri.
Oleh karena itu, para pemerhati pendidikan menekankan pentingnya penyusunan buku sejarah yang jujur, berbasis kajian ilmiah, dan terbuka terhadap kritik. Buku sejarah sebaiknya diuji secara luas oleh komunitas akademik agar tidak menjadi tafsir tunggal atas masa lalu.
Sebagian pengamat menyarankan agar buku ini, jika digunakan di sekolah, tidak dijadikan satu-satunya rujukan. Guru diharapkan tetap menghadirkan sumber lain agar siswa dapat membandingkan berbagai sudut pandang sejarah dan belajar berpikir kritis. Dengan demikian, pendidikan sejarah tidak hanya menanamkan hafalan, tetapi juga membangun kesadaran historis yang matang dan berimbang.
